Selasa, 19 April 2016

Cerita Hati

       Mengenang di suatu saat ketika aku terpuruk dalam gelapnya realita yang harus aku jalani. Ketika usia sudah tidak muda lagi bagi seorang perawan di kota kecil : 28 tahun, dipertemukan dengan jejaka marbot musholla yang magang di perusahaan gypsum.
       Apa daya, kata seorang Bapak tidak mengijinkan. Runtuh dunia terasa, saat si Anak Baik itu berkata : Nikah adalah untuk menyatukan 2 keluarga, setelah ini kita tetap bersaudara.
      Dalam duduk diamku saat malam-malam panjang, kuuntai dalam hati Asma Agung-Nya... seakan diri ini duduk di taman penuh bunga matahari, berhampar rumput hijau bagai permadani. Damai dalam hati.
       Setelah itu hingga detik ini, bunga matahari di taman hati selalu memberiku kehangatan, seakan memberi salam Semangat Pagiii...